14 September 2011

Perdarahan Vagina yang Abnormal

Setiap bulan, endometrium secara siklis mengalami penebalan untuk persiapan menghadapi terjadinya kehamilan. Haid akan terjadi bila tidak terjadi kehamilan. Endometrium akan luruh dan keluar dalam bentuk cairan yang setengahnya berupa darah dengan warna bervariasi dari merah gelap (kecoklatan) atau merah terang. Setelah siklus berlangsung sempurna maka siklus akan berulang kembali.

Perdarahan vagina yang tidak teratur dapat terjadi pada wanita dan berlangsung diluar siklus haid yang teratur. Keadaan ini dapat disebabkan oleh infeksi ( vaginitis ) atau perubahan hormon. Datanglah ke dokter bila anda mengalami kejadian seperti ini untuk memperoleh pemeriksaan dan pertolongan lebih lanjut.

Variasi Normal Dari Perdarahan Haid

Berlangsungnya siklus haid bersifat individual dan pada seorang individu juga dapat ber variasi dari waktu ke waktu lain. Pada umumnya lama haid berlangsung selama 3 – 10 hari dan terjadi dalam rentang waktu 21 – 32 hari. Pola ini ber variasi sesuai dengan usia – stres – pola makan dan olah raga serta faktor keturunan. Jumlah darah haid juga bervariasi antara 40 ml sampai 60 ml ( merupakan keadaan patologis bila melebihi 80 ml ).
Adalah keadaan normal bila saat haid seorang wanita sedikit mengalami rasa nyeri mengejang yang terjadi dibawah pusar dan dapat menjalar ke paha atau punggung. Rasa nyeri berupa rasa nyeri yang bersifat tumpul atau nyeri yang bersifat remasan yang agak tajam. Wanita yang sedang haid juga sering mengeluhkan adanya perut kembung, perut tegang dan emosional bahkan kadang kadang rasa tegang pada payudara dan rambut sedikit rontok.

Variasi penyebab gangguan haid

Pada beberapa wanita tidak diketahui apa yang mengalami perdarahan vagina yang tidak wajar. Pada kasus tertentu dapat diketahui adanya hubungan dengan masalah usia dan sumber perdarahan berasal. Pada kasus seperti ini harus disingkirkan kemungkinan terjadinya kehamilan dan dicari kemungkinan penyebab berupa :
  1. Gangguan hormon
  2. Penggunaan kontrasepsi
  3. Vaginitis atau endometritis
  4. Mioma uteri atau polip endometrium
  5. Trauma vagina
  6. Penggunaan obat tertentu : anti koagulan atau anti epilepsi
  7. Gangguan kelenjar endokrin ( kelenjar gondok )
  8. Karsinoma endometrium , karsinoma servik

Metode diagnosis

Seringkali melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik sederhana sudah dapat ditegakkan diagnosa perdarahan vaginal iregular. Untuk kasus lain harus dilakukan pemeriksaan tambahan berupa :
  1. Hapusan Pap Smear
  2. Tes kehamilan
  3. Pemeriksaan darah
  4. Ultrasonografi
  5. D & C

Pilihan Terapi

  • Obat anti inflamasi
  • Antibiotik
  • Penggantian jenis kontrasepsi
  • Terapi hormon
  • Anti perdarahan ( asam transeksamik )
  • Pengangkatan tumor – polip
  • Terapi gangguan endokrin

Apa yang dapat saudara lakukan di rumah

  • Istirahat dan tidur yang cukup
  • Makan yang berimbang dan sehat
  • Olah raga
  • Catat keluhan anda dengan baik dan gunakan sebagai bahan untuk konsultasi dengan dokter anda

Pilihan untuk mengatasi rasa nyeri :

  • Istirahat
  • Terapi panas ( botol dan handuk hangat )
  • Kenakan pakaian yang longgar
  • Olah raga
  • Masase
  • Analgesik : parasetamol
  • Tehnik relaksasi
  • Pemberian Magnesium atau vitamin B1

Kesimpulan

  • Perdarahan pervagiam iregular adalah perdarahan vagina di luar haid.
  • Bila anda mengalami kejadian ini , cacat jenis keluhan yang terjadi dan kunjungi dokter anda.
  • Pada sebagian besar kasus, penyebab perdarahan vaginal yang tak teratur tidak jelas penyebabnya.
Referensi:

Dispareunia


Dispareunia adalah rasa nyeri yang terjadi saat hubungan seksual, diakibatkan oleh faktor medis atau psikologis. Meski keluhan ini umumnya dikeluhkan oleh kaum wanita, namun beberapa pria juga mengeluhkan hal yang sama.
Dispareunia dianggap sebagai keluhan yang cenderung lebih merupakan masalah fisik ketimbang masalah emosional, kecuali bila memang sudah dapat dibuktikan dengan jelas. Pada sebagian besar kasus, dispareunia terutama berawal dari gangguan fisik. Bentuk ekstrim dari kelainan fisik yang menyebabkan dispareunia adalah kontraksi otot dasar panggul wanita secara berlebihan yang disebut sebagai vaginismus
Merujuk konsensus DSM-IV (American Psychiatric Association 1994), diagnosis dispareunia ditegakkan bila pasien mengeluhkan adanya nyeri genitalia yang bersifat menetap atau berulang sebelum, selama atau setelah melakukan hubungan seksual dan tidak disebabkan oleh karena vagina yang kering atau vaginismus.
Secara klinis sulit untuk membedakan vaginismus dengan dispareunia oleh karena vaginismus sendiri dapat terjadi secara sekunder akibat dispareunia. Perlu diketahui bahwa vaginismus ringan seringkali disertai dengan dispareunia.
Penting dipastikan apakah keluhan dispareunia sudah merupakan keluhan yang dirasakan sejak awal kehidupan seksual, merupakan keluhan yang terus menerus atau bersifat situasional. Hal yang perlu ditentukan adalah apakah nyeri yang terjadi terasa di bagian luar (superfisial) atau di bagian dalam (profunda). Rasa nyeri sudah dapat terjadi saat pemeriksaan fisik berupa ‘vaginal toucher’, terdapatnya faktor psikologi yang berperan dalam keluhan rasa nyeri ini harus sudah ditentukan sebelum memberikan terapi.

Gejala pada wanita

Saat terjadi rasa nyeri, penderita dispareunia akan kehilangan gairah dan kegembiraannya.
Lubrikasi dan dilatasi vagina tidak terjadi. Bila vagina kering dan tidak mengalami dilatasi, proses penetrasi menjadi sulit dan menimbulkan nyeri berlebihan. Meskipun sumber rasa nyeri sudah diperbaiki (bekas luka episiotomy), penderita masih saja merasakan adanya rasa nyeri oleh karena memang memori perasaan nyeri saat hubungan seksual tersebut sangat sulit dihilangkan.

Penyebab dispareunia

Dikenal sejumlah penyakit yang dapat menyebabkan dispareunia, antara lain infeksi (kandidiasis), klamydiatrikomoniasisinfeksi traktus urinarius), endometriosis,[1] tumor,  xerosis (kekeringan vagina, terutama pada keadaan pasca menopause).
Dispareunia dapat pula diakibatkan oleh mutilasi genitalia wanita, sehingga introitus vagina menjadi relatif sempit untuk satu proses penetrasi normal (kadang-kadang diperberat dengan adanya pembentukan jaringan parut).
PENYEBAB FISIK DISPAREUNIA
Oleh karena adanya sejumlah keadaan fisik yang dapat menyebabkan rasa nyeri saat aktivitas seksual maka harus dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik yang baik terhadap penderita dispareunia. Pada wanita, penyebab fisik yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan bersanggama adalah infeksi vagina, infeksi saluran air seni bagian bawah, servik atau tuba falopii (antara lain organisme mycopalsmakandidiasiskhlamidiatrikhomonasbakteri coli), endometriosis, pembentukan jaringan parut (pasca episiotomi) dan tumor ovarium.
Selain infeksi, kelainan anatomis berupa caruncula hymenalis dapat pula menyebabkan dispareunia.
Pada masa pasca menopause, defisiensi Estrogen merupkan penyebab utama keluhan seksual, kekeringan vagina juga dapat terjadi pada masa laktasi
Terapi radiasi yang diberikan pada penderita keganasan dalam panggulmenyebabkan atrofi dinding vagina sehingga mudah mengalami cedera.
Kekeringan vagina juga terlihat pada sindroma Sjögren's , suatu gangguan autoimune yang ditandai dengan gangguan pada kelenjar eksokrin penghasil saliva dan air mata.
Saat ini dispareunia diduga kuat merupakan gejala utama dari penyakit yang dikenal dengan nama Sistitis Interstisialis.
Pada keadaan ini, penderita mengeluh adanya nyeri dan ketidak nyamanan pada daerah perut bagian bawah pasca aktivitas seksual.
Pada pasien laki-laki dengan sistitis interstisialis, nyeri dapat terjadi saat ejakulasi dan terasa di ujung penis.
Pada wanita, nyeri terjadi pada hari berikutnya berupa nyeri mengejang pada otot dasar panggul. Sistitis intersitisialis ini juga dapat menyebabkan keluhan sering buang air kecil atau inkontinensia (ngompol).

Penyebab fisik pada pria

Pada lelaki, sebagaimana yang terjadi pada wanita, faktor fisik penyebab ketidaknyamanan hubungan seksual dirasakan pada daerah testis atau glan penis segera setelah ejakulasi. Prostatitis, atau infeksi kandung kemih dan vesikula seminalis menimbulkan rasa gatal panas seiring dengan ejakulasi. Infeksi gonorrhoe kadang-kadang juga menyebabkan rasa pedih selama ejakulasi.
Urethritis atau prostatitis dapat menyebabkan adanya rasa sakit atau ketidak nyamanan saat genitalia mengalami stimulasi.
Akibat aktivitas seksual atau masturbasi yang mengebu-nggebu dapat menyebabkan cedera ringan pada frenulum dan ini dapat menyebabkan rasa nyeri.

Diagnosa Banding

Keluhan dispareunia pada wanita (vulvodynia) dapat dibagi menjadi 3 jenis :
  • Nyeri vulva (nyeri pada orifisium/pintu masuk vagina)
  • Nyeri vaginal
  • Nyeri di bagian dalam (‘deep pain’/profunda)
Sering kali yang ditemukan adalah kombinasi dari 3 jenis diatas.
Beberapa jenis subtipe dari dispareunia :
  1. Vulvar vestibulitis ( sering terjadi pada masa pre menopause )
  2. Atrofi vulva atau vagina ( umumnya terjadi pada masa pasca menopause)
  3. Dyspreunia profunda atau nyeri panggul ( seringkali terjadi pada kasus endometriosis, kista ovarium, pelekatan organ panggul, penyakit radang panggul atau kongesti ).
Sindroma vulvar vestibulitis (VVS) adalah jenis vulvodynia tersering yang menyerang wanita pada masa premenopause. Keluhan nyeri berupa rasa panas atau pedih. Perasaan iritasi atau terbakar dapat menetap selama beberapa hari pasca aktivitas seksual dan ii dapat menyebabkan depresi.
Angka kejadian VVS cukup tinggi, diperkirakan mengenai 10 – 15% pasien ginekologi. Penyakit ini ditandai dengan adanya rasa nyeri hebat saat terjadi penterasi pada introitus vaginae dan adanya rasa tegang pada vestibulum. Tidak terdapat rasa nyeri tekan pada daerah sekitar vulva. Diagnosa ditegakkan dengan ‘ cotton swab test’, dengan melakukan tekanan melingkar didaerah vestibulum untuk menemukan daerah dengan rasa nyeri. Pemeriksaan laboratorium lain yang harus dilakukan adalah pemeriksaan adanya infeksi bakteri atau virus serta melakukan pemeriksaan seksama pada daerah vulvovaginal untuk melihat adanya daerah atrofi.
VVS terlihat sebagai lesi kemerahan yang kecil-kecil dan banyak didaerah vulva (seperti sariawan). Diperkirakan hal ini berhubungan dengan berbagai faktor etiologi :
  • Infeksi human papilloma virus, candidiasis berulang atau vaginosis bakterial berulang.
  • Pada situasi ini juga terjadi gangguan otot sekitar vaginae (m.sfingter vaginae) berkaitan dengan nyeri vulva yang menahun tersebut
  • Faktor neurologis ( hiperplasia neural vestibular)
  • Faktor psikologis, penderita cemas akan terjadinya rasa nyeri sehingga terjadi reflek kondisi spasmodik setiap kali gairah seksual muncul
Atrofi vaginal sering terjadi pada wanita pasca menopause, nyeri terjadi saat penetrasi dan terasa di vagina bagian depan. Beberapa penderita bahkan juga menyebutkan adanya nyeri profunda atau nyeri panggul saat penetrasi seksual dilakukan. Defisiensi estrogen menyebabkan berkurangnya lubrikasi vagina sehingga terjadi nyeri akibat gesekan antara vagina dengan penis saat terjadi aktivitas seksual.

Terapi

Pemberian terapi dispareunia melalui beberapa tahapan:
  • Anamnesa yang cermat
  • Pemeriksaan fisik terutama pemeriksaan panggul antara lain untuk melihat sumber keluhan atau melihat apa yang dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri.
  • Menjelaskan secara rinci pada pasien apa yang terjadi termasuk menjelaskan lokasi dan penyebab timbulnya rasa nyeri.
  • Hilangkan sumber rasa sakit (bila mungkin)
  • Berikan lubrikan yang larut air sebelum aktivitas seksual. Disarankan untuk menggunakan cairan pelembab kulit sebagai bahan lubrikan sebanyak 2 sendok teh pada penis dan pintu masuk vagina.
  • Pasien memasukkan sendiri penis pasangannya untuk dapat mengendalikan penetrasi.
  • Hendaknya pasangan melakukan aktivitas untuk menggairahkan kehidupan seksual seperti misalnya mandi bersama dan kebersamaan ini tidak selalu berakhir dengan hubungan seksual atau menggunakan gambar-gambar /video seksual. Pada pasangan seksual dimana pasangan wanita dipersiapkan untuk aktivitas penetrasi seksual kedalam vagina, aktivitas seperti diatas dapat menyebabkan terjadinya lubrikasi alamiah dan dilatasi vagina sehingga mengurangi gesekan saat melakukan penetrasi seksual.
  • Menyarankan untuk melakukan aktivitas seksual yang mengurangi kedalaman penetrasi, hal ini disarankan pada mereka yang menderita nyeri di bagian dalam akibat penyakit panggul :
Penetrasi vaginal maksimal terjadi bila pasien telentang dengan paha terangkat dan menempel erat pada dada dan betis bersandar pada bahu pasangannya.
Penetrasi vagina minimal terjadi bila pasien telentang dan kedua kaki dalam keadaan lurus serta menempel pada tempat tidur, pasangan laki berada diatas pasien dengan kedua kaki berjajar dengan kaki pasangan wanita.

Referensi:

Menoragia


Menoragia adalah jumlah perdarahan haid yang berlebihan (lebih dari 80 ml ) dan metroragia adalah perdarahan per vaginam antara dua siklus haid. Pada haid normal, jumlah darah yang keluar tidak lebih dari 40 ml dan berhenti setelah proses pengelupasan endometrium berakhir.
Pada sebagian wanita terjadi perdarahan haid dalam jumlah yang melebihi 80 ml (menoragia) atau terjadi perdarahan berupa bercak bercak diluar siklus haid (metroragia) atau campuran (menometroragia). Pada sebagian kasus, penyebab keadaan ini tidak jelas.
Sejumlah penyebab menoragia adalah :
  • Mioma uteri
  • Polip endometrium atau polip servik
  • Endometriosis
  • Infeksi
  • Efek samping kontrasepsi
Menoragia , metroragia atau menometroragia yang berlarut larut akan menyebabkan anemia.

GEJALA

Gejala menoragia antara lain :
  • Perdarahan fase menstruasi yang berlebihan
  • Perdarahan diantara dua siklus haid
  • Nyeri mengejang pada abdomen bagian bawah
  • Lesu


PENYEBAB

Pada sebagian besar kasus tidak ditemukan penyebab yang pasti dan sejumlah penyebab yang diduga dapat menyebabkan menoragia adalah :
image
  1. ABORTUS - spontan atau provokatus
  2. KEHAMILAN EKTOPIK– umumnya berupa metroragia akibat terjadinya proses lepasnya implantasi hasil konsepsi di daerah tuba yang menyebabkan perdarahan pada endometrium yangberada dalam uterus.
  3. GANGGUAN HORMONAL – hipotiroid (kadar tiroksin rendah) dapat menyebabkan gangguan siklus haid.
  4. ENDOMETRIOSIS – sel endometrium mengadakan migrasi keluar rongga rahim angara lain kedalam ovarium atau kedinding uterus
  5. INFEKSI – antara lain klamidia atau penyakit radang panggul ( PID – pelvic inflamatory disease ).
  6. MEDIKAMENTOSA – konsumsi antikoagulan yang mengganggu proses pembekuan darah.
  7. ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM – AKDR (IUD) – alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rongga rahim dan dapat bersifat sebagai benda asing sehingga memicu terjadinya perdarahan per vaginam yang tidak normal.
  8. KONTRASEPSI HORMONAL – seperti kontrasepsi oral kombinasi atau injeksi depoprovera.
  9. MIOMA UTERI- tumor miometrium (otot uterus)
  10. POLIP – tonjolan kecil bertangkai yang tumbuh dari endometrium dan seringkali disebabkan oleh mioma uteri (pedunculated submucous myoma ).
  11. GANGGUAN PERDARAHAN – leukemia dan penyakit von Willebrand.
  12. KEGANASAN – sebagian besar kasus adalah yang berasal dari endometrium dan sejumlah kecil berasal dari miometrium.


HASIL PENELITIAN

Pada sebagian besar kasus , penyebab pasti gangguan haid ini tidak diketahui. Penelitian menemukan adanya bahan kimia tertentu yang berada dalam uterus dan berkaitan dengan proses haid. Endotelin adalah bahan kimia yang membantu menghentikan perdarahan haid, pada kasus menoragia kadar endotelin lebih kecil dibandingkan normal.


METODE DIAGNOSTIK

Pemeriksaan diagnostik pada kasus menoragia antara lain adalah:

  1. Pemeriksaan umum
  2. Anamnesa medik – menstruasi
  3. Pemeriksaan ginekologi
  4. Hapusan Pap Smear
  5. Pemeriksaan darah
  6. Ultrasonografi transvaginal
  7. Biopsi endometrium


PILIHAN TERAPI

Terapi menoragia tergantung pada penyebab dan meliputi antara lain :
  • Medikamentosa – inhibitor prostaglandin , terapi pengganti hormonal dan antibiotika
  • Dilatase dan Kuretase (D&C)
  • Mengganti jenis kontrasepsi
  • Pembedahan - pengangkatan tumor, polip , mioma atau terapi kehamilan ektopik.
  • Terapi latar belakang penyakit - Hipotiroia atau gangguan pembekuan darah.
  • Histerektomi


Kesimpulan

  • Menoragia adalah jumlah perdarahan haid yang berlebihan
  • Metroragia adalah perdarahan diluar siklus haid.
  • Pada sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya penyebab pasti
  • Menoragia umumnya disebabkan oleh polip – mioma uteri – endometriosis – infeksi dan beberapa jenis metode kontrasepsi
  • Pilihan terapi antara lain : medikasi dan D & C atau ablasi endometrium
Referensi:

Amenore

AMENOREA adalah peristiwa tidak datangnya haid.
Selain pada masa anak-anak, kehamilan, menyusui atau menopause, peristiwa tidak datangnya haid menandakan adanya masalah pada sistem reproduksi wanita.
Salah satu dari penyebab amenorea adalah gangguan hormon.
Serangkaian proses kerja sama antara hormon seksual wanita dapat terganggu oleh berbagai masalah antara lain penyakit pada organ reproduksi, penurunan berat badan, stres emosional atau olah raga berlebihan. Namun tidak jarang bahwa pada kejadian amenorea tidak ditemukan adanya penyebab yang pasti.

AMENORE PRIMER dan SEKUNDER

Amenorea dibagi menjadi 2 golongan :
  • AMENOREA PRIMER – pada usia 14 tahun atau lebih tidak terjadi haid dan pada yang bersangkutan tidak ditemukan adanya perkembangan karakteristik seksual sekunder seperti penonjolan payudara atau rambut pubis, atau pada usia 16 tahun tidak terjadi haid namun pada yang bersangkutan terjadi perkembangan karakteristik seksual sekunder.
  • AMENOREA SEKUNDER – proses haid sudah terjadi namun berhenti selama 6 bulan atau dalam jangka waktu yang setara dengan 3 siklus haid

SIKLUS MENSTRUASI

Hipotalamus dan kelenjar hipofisis bekerja sama dalam mengendalikan berlangsungnya siklus haid. Hipofisis menghasilkan bahan biokimiawi yang memicu ovarium untuk menghasilkan dua jenis hormon seksual yaitu ESTROGEN dan PROGESTERON. Kedua hormon ini akan menyebabkan penebalan selaput mukosa yang melapisi rongga rahim (endometrium) agar siap dalam menghadapi proses kehamilan.
Bila tidak terjadi kehamilan, kadar kedua hormon tersebut menurun secara drastis sehingga endometrium luruh dan terjadilah peristiwa haid.
Dalam keadaan normal, siklus ini berulang setiap bulan.
Gangguan yang terjadi pada poros hipotalamus, kelenjar hipofisis, indung telur (ovarium ) dan uterus akan mengganggu kelangsungan proses haid sehingga terjadi amenorea.

GANGGUAN PADA HIPOTALAMUS

Berbagai faktor dapat menyebabkan gangguan fungsi hipotalamus dan memicu terjadinya amenorea antara lain :
  • Stres emosional
  • Penurunan berat badan
  • Olah raga berlebihan
  • Obat psikosis dari jenis tranquilizer major
  • Kelainan sistem endokrin seperti hipotiroid

Gangguan Lain

Kelainan yang dapat menyebabkan amenorea :
  • Sindroma Ovarium Polikistik – pada permukaan ovarium terbentuk kista-kista kecil yang berasal dari sejumlah folikel primordial yang tidak dapat mencapai tahap maturasi sempurna. Keadaan ini ditandai oleh gangguan haid dan hirsuitisme ( pertumbuhan rambut wajah yang berlebihan )
  • Hiperandrogenemia – sistem reproduksi wanita berada dibawah pengaruh kadar hormon seksual pria yang tinggi. Keadaan ini terjadi pada kasus tumor ovarium tertentu dan tumor adrenal atau kelainan kongenital tertentu lain.
  • Hiperprolaktinemia – kenaikan kadar hormon prolaktin yang terjadi akibat aktivitas berlebihan atau tumor pada hipofisis.
  • Kegagalan Ovarium – atau disebut pula sebagai menopause dini. Kadar estrogen yang tidak memadai menyebabkan tidak terjadinya proses ovulasi sehingga siklus haid akan berhenti.
  • clip_image004

  • Abnormalitas vagina dan uterus – Pada kasus himen imperforatus (selaput dara menutup seluruh lubang vagina) atau sinekhiae uterus (perlekatan dinding rahim akan menyebabkan gangguan haid dan pada kasus himen imperforatus akan terjadinya nyeri yang bersifat siklis akibat pembendungan darah haid dalam vagina dan uterus (hematokolpos dan hematometra)

DIAGNOSIS

Untuk menegakkan diagnosa penyebab amenorea dilakukan sejumlah pemeriksaan antara lain :
  • Tes Kehamilan – pemeriksaan urine atau darah.
  • Pemeriksaan fisik – untuk menentukan status kesehatan umum dan melihat perkembangan dari karakteristik seksual sekunder.
  • Anamnesa - riwayat ginekologi dan metode kontrasepsi yang diikuti.
  • Tes Hormonal – untuk menentukan fungsi hipotalamus , hipofisis dan ovarium.
  • Scanning – antara lain CT scans dan pemeriksaan ultrasonografi pada organ sistem reproduksi.

Pilihan terapi

Terapi amenorea tergantung pada penyebabnya. Bila terjadi penurunan berat badan berlebihan atau melakukan aktivitas olah raga berlebihan maka terapi ditujukan pada usaha untuk mendapatkan berat badan yang ideal.
Pilihan terapi lain adalah memberikan terapi hormonal pengganti (seperti menggunakan kontrasepsi oral kombinasi) agar kadar hormon tubuh pulih ke nilai normal.

Kesimpulan

  • Amenorea adalah tidak datangnya haid
  • Penyebab utama adalah gangguan hormonal
  • Kadar hormon dapat terganggu akibat stres emosional, penurunan berat badan, olah raga berlebihan dan penyakit pada sistem reproduksi.
Sumber:
http://griyawanodya.blogspot.com/2009/12/amenorea.html

Siklus Haid


Siklus haid rerata berlangsung setiap 28 hari, lama siklus bervariasi secara individual dan bahkan pada satu individu tertentu. Panjang siklus haid dihitung sejak hari pertama haid sampai hari pertama haid siklus berikutnya.

Menarche

( awal menstruasi pada remaja ) rerata berlangsung antara usia 11 – 14 tahun. Pada saat itu karakteristik seksual sekunder seperti pertumbuhan rambut kemaluan dan tonjolan payudara sudah mulai terjadi.

Hormon dan Siklus haid

Siklus haid adalah peristiwa yang komplek dan dikendalikan oleh berbagai kelenjar berikut produksi hormon yang dikeluarkannya. Struktur otak yang bernama HIPOTALAMUS mempengaruhi kelenjar hipofises didekatnya untuk menghasilkan bahan kimia khusus yang dapat memicu indung telur ( ovarium ) untuk mensekresi hormon seksual estrogen dan progesteron. Siklus haid merupakan sistem umpan balik yang berarti bahwa semua struktur dan kelenjar memiliki keterkaitan pengaruh yang erat satu sama lain.
clip_image001
Terdapat 4 fase dalam siklus haid :
  1. Fase Menstruasi
  2. Fase Folikuler ( fase proliferasi )
  3. Ovulasi
  4. Fase Luteal ( fase sekresi )

Fase Menstruasi

Menstruasi atau haid adalah proses pengelupasan pelapis rongga rahim (endometrium) yang tebal. Cairan haid terdiri dari darah – sel endometrium dan mukus.
Periode haid berlangsung 3 sampai 6 hari. Untuk menyerab darah haid digunakan tampon dan tampon harus diganti sekurang kuranya tiap 4 jam.
Penggunaan tampon sering berkaitan dengan meningkatnya resiko terjadinya sindroma “toxic shock”.
clip_image003

Fase Folikuler

Fase folikuler adalah rentang antara hari pertama haid terakhir dengan terjadinya ovulasi. Dipicu oleh hipotalamus, kelenjar hipofisis melepaskan FSH – Follicle Stimulating Hormone yang menstimulasi proses pematangan sekitar 20 folikel primer dalam ovarium. Diantara sejumlah folikel primer tersebut hanya satu yang berhasil menjadi matang dan mengalami proses ovulasi, sementara folikel primer lain akan mati.
Pada siklus haid 28 hari , fase Folikuler ini berlangsung kurang lebih selama 10 hari. Pertumbuhan folikel primer akan memicu proses penebalan endometrium dalam rangka persiapan untuk implantasi hasil konsepsi bila terjadi proses kehamilan.

Ovulasi
clip_image004

Ovulasi adalah pelepasan sel telur yang matang melalui permukaan ovarium. Kejadian ini terjadi pada pertengahan siklus, sekitar 14 hari sebelum datangnya haid yang berikutnya
Selama fase folikuler, proses pematangan menyebabkan meningkatnya kadar estrogen. Hipotalamus dapat mengenali peningkatan kadar estrogen tersebut memberi respon dengan melepaskan GnRH – Gonadotropin Releasing Hormon. GnRH selanjutnya memicu hipofisis untuk mengeluarkan LH – Luteinizing Hormon dan FSH lebih lanjut.
Dalam waktu 2 hari, proses ovulasi terjadi akibat dipicu oleh tingginya kadar LH. Setelah dilepaskan , sel telur berjalan didalam Tuba Falopii menuju rongga rahim. Usia sel telur hanya sekitar 24 jam dan bila sepanjang perjalannya didalam Tuba Falopii tidak bertemu sperma dan terjadi konsepsi maka dia akan segera mati.

Fase Luteal

Saat ovulasi, sel telur keluar dari folikel dan sisa folikel masih berada didalam permukaan ovarium. Selama 2 minggu terjadi perubahan sutruktur sisa folikel tersebut menjadi CORPUS LUTEUM yang menghasilkan hormon PROGESTERON seiring dengan masih diproduksinya etsrogen dalam julah kecil.Secara bersama sama, kombinasi estrogen dan progesteron tersebut mempertahankan ketebalan endometrium untuk menanti datangnya hasil konsepsi yang akan ber implantasi. Corpus luteum memerlukan adanya implantasi sel telur yang telah dibuahi ( blastosis ) dan hormon yang terkait ( antara lain hCG – human chorionic gonadotropin ) untuk terus menghasilkan progesteron dan mempertahankan ketebalan endometrium. Bila tidak terjadi konsepsi, corpus luteum akan mati dan kejadian itu berlangsung sekitar hari ke 22 pada siklus haid 28 hari. Penurunan kadar progesteron menyebabkan luruhnya endometrium dan kejadian ini disebut sebagai HAID – menstruasi. Siklus berlangsung ulang untuk periode berikutnya.

Masalah haid yang sering terjadi

Sejumlah masalah haid yang dapat antara lain
  • Sindroma Pra Haid - Premenstrual syndrome (PMS) – aktivitas corpus luteum dan meningkatnya kadar progesteron sebelum haid memicu serangkaian efek samping pada wanita tertentu antara lain berupa retensi cairan, sakit kepala, lesu dan perasa. Terapi antara lain berupa olah raga dan modifikasi diet.
  • Dismenorhe – nyeri haid . Diduga bahwa hormon tertentu menyebabkan uterus mengalami kontraksi yang kuat saat melepaskan endometrium sehingga menyebabkan rasa nyeri. Terapi berupa pemberian analgesik.
  • Menoragia – atau perdarahan haid dalam jumlah berlebihan yang dapat menyebabkan anemia. Terapi antara lain dengan memberikan kontrasepsi hormonal per oral untuk mengatur jumlah perdarahan haid.
  • Amenorea – atau tidak datang haid. Pada masa pubertas, kehamilan , laktasi dan menopause peritiwa ini adalah fisiologis. Keadaan patologi yang dapat menyebabkan amenorea adalah penurunan berat badan atau olah raga berlebihan.
Referensi: